GENDUT ITU TAMPAN
(Karya by
Muhammad Machfudzi)
Orang gendut selalu jadi
ejekan oleh teman-temannya. Tidak terkecuali Fudi, Fudi memiliki badan yang
gendut. Dia memang memiliki hobi makan, hampir semua makanan dia sukai. Hingga
suatu ketika Fudi bertemu dengan wanita, wanita itu bernama Rina. Rina ialah
wanita yang baik hati, selain cantik dan anggun. Adapula Siska, Siska ialah
shohib Rina. Siska selalu memandang kekurangan orang lain dari fisiknya.
Suatu saat di pagi hari,
Fudi melamun di halaman belakang rumahnya. Fudi memikirkan mau mengajak Rina
untuk dinner besok malam. Tanpa pikir panjang, Fudi ambil telefon genggamnya
yang tersimpan di saku celana.
“Tuuut, tuuut” suara
telefon Fudi yang di tempelkan di telingannya.
“Ya, hallo” angkat Rina.
“Assalamualaikum, ini Rina
ya?” Fudi mulai mengobrol.
“Waalaikumsalam. Ya, ini
siapa?” jawab Rina sambil tanya.
“Aku Fudi, Rinnn!” jawab
Fudi.
“Oh, ada apa Fud?” tanya
Rina.
“Besok malam ada kegiatan
nggak?” tanya Fudi.
“Gak ada sih kayaknya, ada
apa emang!” Rina tanya balik.
“Besok malam dinner yuk!”
ajak Fudi.
“Ehmm, boleh-boleh!” Rina
kaget dengan ajakan Fudi.
“Oke, besok aku jemput ke
rumahmu jam 7 ya?” tawar Fudi.
“Nggak, nggak usah. Biar
nanti aku pake motor sendiri” jawab Rina.
“Ya sudah, aku tunggu di
cafe. Assalamualaikum!” pamit Fudi.
“Ya, waalaikumsalam” jawab
Rina sambil menutup telefonnya.
Hari itu pun datang, Fudi
pun tiba di cafe sebelum jam 7 malam. Sedangkan
Rina masih di rumah. Tiba-tiba Siska datang ke rumah Rina, Rina pun kaget.
“Hey, Rina. Mau kemana!”
tanya Siska dengan merangkul Rina dari belakang
“Mau dinner lah. Kamu
ngapain kesini?” tanya Rina sambil melepas rangkulan Siska.
“Cie-cie, sama siapa!”
canda Siska pada Rina.
“Emangnya mau tau banget,
atau mau tau aja!. Hhahaha” tawain Siska yang kepo.
“Ah, kamu bercanda aja!. Oh
ya, kamu nggak di jemput emangnya?” tanya Siska.
“Nggak, aku ke sana naik
motor sendiri aja” jawab Rina.
“Oke, kalau gitu aku ikut
ya?” minta Siska.
“Jangan, ngapain juga ikut
aku!” Rina heran dengan Siska yang mau ikut dinner.
“Ah, kamu tega Rin. Aku
kesini kan ngajakin kamu keluar. Malah kamu keluar sama orang lain. Jadi aku
ikut ya, pliss” alasan Siska agar di ajak Rina dinner.
“Ya sudah, nanti kamu yang
boncengin aku ya?” Rina pun mengizinin Siska.
“Siap tuan putri. Ayo
cabut, pangeran udah nungguin tuh!” ajak Siska.
“Yok” kata Rina sambil
menuju motor matic yang udah ada Siska.
Mereka berdua pun berangkat
bersama, dengan menaiki motor secara hati-hati.
Di tempat lain, Fudi
menunggu udah setengah jam lebih. Terlihat kekhawatiran di wajah Fudi, dan
terus melihat jam tangan hitamnya. Tidak lama kemudian, Rina pun datang.
“Hay, udah lama nunggu!”
sapa Rina sambil mengulurkan tangannya ke Fudi.
“Udah setengah jam lebih
lah. Oh itu siapa?” jawab Fudi dengan meraih tangan Rina.
“Fud, ini Siska. Teman
karibku” jawab Rina sambil nunjuk Siska.
“Ya, aku Fudi!” sapa Fudi
dengan menjulurkan tangannya ke Siska.
“Aku Siska, kamu udah
temanan sama Rina sejak kapan?” tanya Siska.
“Sejak 5 bulan yang lalu.
Oh ya, ayo duduk dulu!” jawab Fudi dengan mengajak mereka berdua duduk.
“Ehmm, gitu” kata Siska
dengan memandang fisik Fudi.
“Kalian mau pesan apa, biar
aku pesanin!” tawar Fudi.
“Aku air putih aja. Gak mau
makan, nanti aku gendut!” kata Siska dengan sedikit menyindir Fudi.
“Kalau kamu apa Rin?” tawar
Fudi ke Rina.
“Aku nasi goreng aja sama
air putih. Kamu kenapa Sis gak pesen makanan?” tanya Rina ke Siska.
“Aku takut gendut Rin,
kayak teman kamu itu” jawab Siska dan Fudi pergi untuk memesan makanan.
“Eh, kamu jangan begitu.
Aku jadi gak enak sama Fudi” ujar Rina.
“Kan emang gitu, mau gimana
lagi coba!” jawab Siska dengan ngotot.
“Ah, aku salah ngajak kamu
ke sini” Rina menyesal ajak Siska.
“Ya udah” kata Siska dengan
membuang mukanya dan Fudi datang dengan membawa makanan.
“Nih makanannya, silakan di
makan!” Fudi menaruh makanan di meja.
Mereka bersama-sama melahap
makanan tersebut, tapi Siska hanya memandangi Fudi yang memiliki badan yang
gendut. Di tengah makan, Siska bertanya.
“Fud, berat badan kamu
berapa sih? kog besar gitu!” pertanyaan Siska membuat Rina dan Fudi berhenti
makan sejenak.
“Kenapa emangnya” bentak
Rina ke Siska.
“Nggak apa-apa, aku cuma
tanya kog” Siska takut dengan Rina.
“Oh, berat badanku 80 Kg”
jawab dengan percaya diri.
“Puas kamu, kamu itu dari
dulu sama aja” Rina marah sama Siska.
“Udah Rin, nggak apa-apa.
Kan emang gitu kenyataannya. Lagian aku gak pernah malu sedikitpun di bilang
gendut. Aku sejak kecil udah di panggil gendut sama teman-teman. Jadi gak aneh
kalau sekarang ada yang bilang seperti itu” jelasin Fudi dengan terbuka.
“Eh, kamu kog bisa percaya
diri gitu?” tanya Siska yang takjub dengan Fudi.
“Ya, jadi gini. Aku suka
jadi orang yang bisa di kenali dengan ciri-ciri yang unik. Kenapa harus malu?.
Yang aku lakukan saat ini, hanya bersyukur telah di beri kesehatan yang luar
biasa oleh Maha Pencipta. Orang yang kurang percaya diri itu sebenarnya kurang
bersyukur, dan dia terus mengeluhkan untuk tampil sesempurna mungkin di hadapan
publik. Manusia di mata Tuhan itu sama saja, kecuali amal ibadahnya” Fudi
menjelaskan semuanya.
“Ya, kamu benar Fud!” kata
Rina yang juga takjub dengan Fudi.
“Sudah-sudah di lanjutin
makannya” Fudi ajak semuanya untuk makan.
“Bentar ya, aku mau pesan
makanan dulu?” pamit Siska untuk pesen makanan.
“Hahaha, dia sadar juga” ketawa
Rina ke Siska.
“Sudah Rin, kamu makan dulu
makanan kamu itu” kata Fudi
“Ayo teman-teman, kita
makan yang banyak. Gendut itu keren” kata Siska yang datang habis pesen
makanan.
“Haduh, kamu itu Sis.
Makanya jangan nilai orang itu dari fisiknya saja” saran Rina.
Akhirnya mereka pun selesai
makan, lalu mereka bertiga pulang.
Siska yang dulunya
memandang orang lain dari fisiknya. Sekarang berubah jadi orang yang tidak lagi
memandang fisik. Fudi yang selalu bersyukur akan anugerah yang di beri Tuhan, hingga
akhirnya mendapatkan wanita yang baik seperti Rina. Fudi dan Rina pun menjadi
sepasang kekasih yang sempurna, yang di idam-idamkan oleh insan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar