Sabtu, 21 November 2015

Cerpen "Gendut Itu Tampan"



GENDUT ITU TAMPAN
(Karya by Muhammad Machfudzi)


Orang gendut selalu jadi ejekan oleh teman-temannya. Tidak terkecuali Fudi, Fudi memiliki badan yang gendut. Dia memang memiliki hobi makan, hampir semua makanan dia sukai. Hingga suatu ketika Fudi bertemu dengan wanita, wanita itu bernama Rina. Rina ialah wanita yang baik hati, selain cantik dan anggun. Adapula Siska, Siska ialah shohib Rina. Siska selalu memandang kekurangan orang lain dari fisiknya.

Suatu saat di pagi hari, Fudi melamun di halaman belakang rumahnya. Fudi memikirkan mau mengajak Rina untuk dinner besok malam. Tanpa pikir panjang, Fudi ambil telefon genggamnya yang tersimpan di saku celana.
“Tuuut, tuuut” suara telefon Fudi yang di tempelkan di telingannya.
“Ya, hallo” angkat Rina.
“Assalamualaikum, ini Rina ya?” Fudi mulai mengobrol.
“Waalaikumsalam. Ya, ini siapa?” jawab Rina sambil tanya.
“Aku Fudi, Rinnn!” jawab Fudi.
“Oh, ada apa Fud?” tanya Rina.
“Besok malam ada kegiatan nggak?” tanya Fudi.
“Gak ada sih kayaknya, ada apa emang!” Rina tanya balik.
“Besok malam dinner yuk!” ajak Fudi.
“Ehmm, boleh-boleh!” Rina kaget dengan ajakan Fudi.
“Oke, besok aku jemput ke rumahmu jam 7 ya?” tawar Fudi.
“Nggak, nggak usah. Biar nanti aku pake motor sendiri” jawab Rina.
“Ya sudah, aku tunggu di cafe. Assalamualaikum!” pamit Fudi.
“Ya, waalaikumsalam” jawab Rina sambil menutup telefonnya.

Hari itu pun datang, Fudi pun tiba  di cafe sebelum jam 7 malam. Sedangkan Rina masih di rumah. Tiba-tiba Siska datang ke rumah Rina, Rina pun kaget.
“Hey, Rina. Mau kemana!” tanya Siska dengan merangkul Rina dari belakang
“Mau dinner lah. Kamu ngapain kesini?” tanya Rina sambil melepas rangkulan Siska.
“Cie-cie, sama siapa!” canda Siska pada Rina.
“Emangnya mau tau banget, atau mau tau aja!. Hhahaha” tawain Siska yang kepo.
“Ah, kamu bercanda aja!. Oh ya, kamu nggak di jemput emangnya?” tanya Siska.
“Nggak, aku ke sana naik motor sendiri aja” jawab Rina.
“Oke, kalau gitu aku ikut ya?” minta Siska.
“Jangan, ngapain juga ikut aku!” Rina heran dengan Siska yang mau ikut dinner.
“Ah, kamu tega Rin. Aku kesini kan ngajakin kamu keluar. Malah kamu keluar sama orang lain. Jadi aku ikut ya, pliss” alasan Siska agar di ajak Rina dinner.
“Ya sudah, nanti kamu yang boncengin aku ya?” Rina pun mengizinin Siska.
“Siap tuan putri. Ayo cabut, pangeran udah nungguin tuh!” ajak Siska.
“Yok” kata Rina sambil menuju motor matic yang udah ada Siska.
Mereka berdua pun berangkat bersama, dengan menaiki motor secara hati-hati.

Di tempat lain, Fudi menunggu udah setengah jam lebih. Terlihat kekhawatiran di wajah Fudi, dan terus melihat jam tangan hitamnya. Tidak lama kemudian, Rina pun datang.
“Hay, udah lama nunggu!” sapa Rina sambil mengulurkan tangannya ke Fudi.
“Udah setengah jam lebih lah. Oh itu siapa?” jawab Fudi dengan meraih tangan Rina.
“Fud, ini Siska. Teman karibku” jawab Rina sambil nunjuk Siska.
“Ya, aku Fudi!” sapa Fudi dengan menjulurkan tangannya ke Siska.
“Aku Siska, kamu udah temanan sama Rina sejak kapan?” tanya Siska.
“Sejak 5 bulan yang lalu. Oh ya, ayo duduk dulu!” jawab Fudi dengan mengajak mereka berdua duduk.
“Ehmm, gitu” kata Siska dengan memandang fisik Fudi.
“Kalian mau pesan apa, biar aku pesanin!” tawar Fudi.
“Aku air putih aja. Gak mau makan, nanti aku gendut!” kata Siska dengan sedikit menyindir Fudi.
“Kalau kamu apa Rin?” tawar Fudi ke Rina.
“Aku nasi goreng aja sama air putih. Kamu kenapa Sis gak pesen makanan?” tanya Rina ke Siska.
“Aku takut gendut Rin, kayak teman kamu itu” jawab Siska dan Fudi pergi untuk memesan makanan.
“Eh, kamu jangan begitu. Aku jadi gak enak sama Fudi” ujar Rina.
“Kan emang gitu, mau gimana lagi coba!” jawab Siska dengan ngotot.
“Ah, aku salah ngajak kamu ke sini” Rina menyesal ajak Siska.
“Ya udah” kata Siska dengan membuang mukanya dan Fudi datang dengan membawa makanan.
“Nih makanannya, silakan di makan!” Fudi menaruh makanan di meja.
Mereka bersama-sama melahap makanan tersebut, tapi Siska hanya memandangi Fudi yang memiliki badan yang gendut. Di tengah makan, Siska bertanya.
“Fud, berat badan kamu berapa sih? kog besar gitu!” pertanyaan Siska membuat Rina dan Fudi berhenti makan sejenak.
“Kenapa emangnya” bentak Rina ke Siska.
“Nggak apa-apa, aku cuma tanya kog” Siska takut dengan Rina.
“Oh, berat badanku 80 Kg” jawab dengan percaya diri.
“Puas kamu, kamu itu dari dulu sama aja” Rina marah sama Siska.
“Udah Rin, nggak apa-apa. Kan emang gitu kenyataannya. Lagian aku gak pernah malu sedikitpun di bilang gendut. Aku sejak kecil udah di panggil gendut sama teman-teman. Jadi gak aneh kalau sekarang ada yang bilang seperti itu” jelasin Fudi dengan terbuka.
“Eh, kamu kog bisa percaya diri gitu?” tanya Siska yang takjub dengan Fudi.
“Ya, jadi gini. Aku suka jadi orang yang bisa di kenali dengan ciri-ciri yang unik. Kenapa harus malu?. Yang aku lakukan saat ini, hanya bersyukur telah di beri kesehatan yang luar biasa oleh Maha Pencipta. Orang yang kurang percaya diri itu sebenarnya kurang bersyukur, dan dia terus mengeluhkan untuk tampil sesempurna mungkin di hadapan publik. Manusia di mata Tuhan itu sama saja, kecuali amal ibadahnya” Fudi menjelaskan semuanya.
“Ya, kamu benar Fud!” kata Rina yang juga takjub dengan Fudi.
“Sudah-sudah di lanjutin makannya” Fudi ajak semuanya untuk makan.
“Bentar ya, aku mau pesan makanan dulu?” pamit Siska untuk pesen makanan.
“Hahaha, dia sadar juga” ketawa Rina ke Siska.
“Sudah Rin, kamu makan dulu makanan kamu itu” kata Fudi
“Ayo teman-teman, kita makan yang banyak. Gendut itu keren” kata Siska yang datang habis pesen makanan.
“Haduh, kamu itu Sis. Makanya jangan nilai orang itu dari fisiknya saja” saran Rina.
Akhirnya mereka pun selesai makan, lalu mereka bertiga pulang.

Siska yang dulunya memandang orang lain dari fisiknya. Sekarang berubah jadi orang yang tidak lagi memandang fisik. Fudi yang selalu bersyukur akan anugerah yang di beri Tuhan, hingga akhirnya mendapatkan wanita yang baik seperti Rina. Fudi dan Rina pun menjadi sepasang kekasih yang sempurna, yang di idam-idamkan oleh insan manusia.